Enam Perkara Yang Telah Digariskan Imam Al-Ghazali RA. Dalam Kitab Ihya'Ulumudin
Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.
Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.
“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”
Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan seseorang karena melihat penilaian dari luar, kita tidak akan pernah tahu pada beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang kita remehkan bisa jadi merupakan pengantar rejeki yang tak terduga.
Apabila hari ini kita belum dapat 'Memberi Kebahagiaan' kepada sesama, maka usahakan hari ini 'Tidak Menyakiti' orang lain.
Ada enam perkara bijak yang telah digariskan oleh IMAM AL-GHAZALI RA.
Dalam kitabnya : _IHYA' ULUMUDDIN_
1. Jika berjumpa dengan anak-anak, anggaplah anak-anak itu lebih mulia dari kita, karena anak-anak belum banyak melakukan dosa.
2. Apabila bertemu dengan orang tua, anggaplah dia lebih mulia daripada kita karena dia sudah lama beribadah kepada Allah SWT, dibandingkan dengan diri kita.
3. Jika bertemu dengan orang alim, anggaplah dia lebih mulia dari kita, karena dia lebih banyak ilmu yang dipelajarinya dan lebih banyak mengetahui, dibandingkan dengan diri kita.
4. Apabila bertemu orang jahil, anggaplah mereka lebih mulia daripada kita, karena mereka melakukan dosa dalam kejahilan, sedangkan kita melakukan dosa dalam keadaan mengetahui.
5. Jika melihat orang jahat, jangan anggap kita lebih mulia daripada mereka karena mungkin di suatu hari nanti mereka akan insaf dan bertobat atas kesalahan yang telah mereka lakukan.
6. Apabila bertemu dengan orang kafir, katakan di dalam hati bahawa mungkin suatu hari nanti mereka akan diberi hidayah oleh Allah SWT dan akan memeluk Islam, maka segala dosa mereka akan diampuni oleh Allah SWT.
Semoga Bermanfaat..
Kairo,05 April 2020
@JauhariAkwan...

Komentar
Posting Komentar